Monday, September 10

Penanganan Kasus Malpraktek Medis Oleh Jaksa Penuntut Umum


          Pengertian malpraktek
          Tenaga Kesehatan
          Jenis-jenis malpraktek medis
          Malpraktek kriminal
          Contoh kasus
          Penanganan kasus


Malpraktek
Umum : Kelalaian dari seorang dokter atau Perawat/Bidan untuk menggunakan tingkat kemampuan dan ilmu pengetahuannya dalam mengobati dan merawat pasien.
C.Berkhouwer : Seorang Dokter melakukan kesalahan profesional karena tidak bertindak sesuai dengan kewajiban yang timbul dari profesinya.
Dasar hukum : KUHP, KUH Perdata,
                                   UU No. 36 tahun 2009 (tentang          Kesehatan )
Malpraktek “ Harus dibuktikan di Pengadilan

Unsur Pembuktian:
Ø   DUTY : Ada kewajiban Profesional terhadap Klien.
Ø   BREACH OF DUTY : Pelanggaran kewjiban / tidak memenuhi norma yang ditetapkan oleh Standar.
Ø   DAMAGES : Kerugian / Kerusakan / Cedera pada Klien ; dapat bersifat fisik,finansial,atau emosional.
Ø   CAUSATION : Ada hubungan sebab akibat antara unsur “ breach of duty “dengan ”damages“.
KEWAJIBAN ( DUTY )

Konsep “kewajiban “ menyangkut dua masalah pokok :
1.      Apakah suatu pihak (mis.Dokter/Perawat ) mempunyai kewajiban untuk bertindak demi keuntungan pihak lain (mis.Pasien ) ?

2.       Bagaimana sesungguhnya hakekat kewajiban itu ?


Tenaga Kesehatan
          UU No. 23/1992 Pasal 1 butir ke – 3
setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau ketrampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
          PP No. 32/1996
Tenaga Kesehatan antara lain terdiri dari tenaga medis (dokter dan dokter gigi) dan tenaga keperawatan (perawat dan bidan).
          Pedoman Tenaga Kesehatan
        Kep. Menkes RI. No: 434/MEN.KES/SK/X/1983 ttg. Kode Etik Kedokteran Indonesia
        Standar Profesi Kedokteran

Jenis-jenis Malpraktek Medis
1.      Malpraktek kriminal (pidana)
kesalahan dalam menjalankan praktek yang berkaitan dengan pelanggaran undang-undang hukum pidana.
2.      Malpraktek sipil (perdata)
kesalahan dalam menjalankan praktek yang menyalahi atau melanggar atau tidak memenuhi transaksi atau kontrak terapeutik antara dokter dengan pasien, yaitu hubungan hukum dokter dengan pasien, dimana dokter bersedia memberikan pelayanan/perawatan medis kepada pasien, dan pasien bersedia membayar sejumlah honor kepada dokter tersebut.
3.      Malpraktek etik
lebih menekankan pada tindakan yang dilakukan si pelaku dengan berpedoman kepada kode etik profesi. Sanksi yang diberikan bertujuan edukatif dan bukan sebagai hukuman atau pengganti kurungan

Malpraktek Kriminal
  1. menyebabkan pasien meninggal/luka karena kelalaian/ketidakhati-hatian tenaga medis
          Ps. 359 KUHP - akibat kelalaian, menyebabkan matinya orang lain dengan pidana penjara paling lama 5 thn;
          Ps. 360 (1) KUHP - akibat kelalaian, menyebabkan orang lain luka berat dengan pidana penjara paling lama 5 thn atau kurungan paling lama 1 thn;
          Ps. 360 (2) KUHP - akibat kelalaian, menyebabkan orang lain menderita luka-luka sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan, jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu, pidana penjara paling lama 9 bulan atau kurungan 6 bulan atau denda paling tinggi Rp. 300,-;
          Ps. 361 KUHP - apabila kelalaian tersebut dilakukan dalam menjalankan suatu jabatan atau pencaharian, pidana ditambah ⅓ dan haknya untuk menjalankan pencaharian dapat dicabut.

  1. abortus provokatus
          Ps. 299 KUHP - dengan sengaja menggugurkan kandungan seorang wanita atau berbuat dengan maksud mencari keuntungan atau sebagai mata pencaharian atau sebagai dokter, bidan, atau juru obat, dipidana paling lama 4 tahun dan ditambah ⅓ pidana;
          Ps. 347 (1) KUHP - dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati kandungan seorang wanita tidak dengan ijin yang bersangkutan, dipidana paling lama 12 tahun;
          Ps. 347 (2) KUHP - apabila perbuatan tersebut menyebabkan wanita itu mati, dipidana dengan penjara paling lama 15 tahun;
          Ps. 348 (2) KUHP - apabila perbuatan itu menyebabkan wanita itu mati, dipidana paling lama 7 tahun;
          Ps. 349 KUHP - apabila seorang dokter, bidan, atau juru obat bersalah melakukan kejahatan dalam Pasal 347 dan 348, maka pidana dapat ditambah ⅓ dan dapat dicabut hak untuk melakukan pekerjaannya;
          Tambahan:         Ps. 80 (1) UU No. 23/1992,
      sanksi pidananya        adalah:

a.       pidana penjara 15 tahun; dan
b.      denda paling banyak Rp. 500.000.000,


  1. pelanggaran kesusilaan atau kesopanan

          Ps. 285 KUHP - perkosaan, dipidana paling lama 12 tahun;
          Ps. 286 KUHP - melakukan persetubuhan dengan perempuan yang bukan istrinya yang dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, dipidana paling lama 9 tahun;
          Ps. 290 KUHP - pencabulan terhadap orang yang dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, atau dibawah umur atau membiarkan terjadi, dipidana paling lama 7 tahun.


  1. Membuka rahasia kedokteran

Ps. 322 KUHP - dengan sengaja membuka rahasia yang ia wajib menyimpan oleh karena jabatan atau pekerjaan, dipidana paling lama 9 bulan atau denda paling banyak Rp. 9.000


  1. Pemalsuan surat keterangan

          Ps. 263 KUHP - membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menjadi bukti tentang sesuatu hal, dapat dipidana paling lama 6 tahun, dan
          Ps. 267 KUHP - pemalsuan surat pembukti resmi (akte otentik), dipidana paling lama 8 tahun.


  1. Sengaja tidak memberikan pertolongan pada orang yang dalam keadaan bahaya

          Ps. 304 KUHP - dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan orang dalam kesengsaraan, dapat dipidana paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda paling banyak Rp. 4.000,-; dan
          Ps. 531 KUHP - menyaksikan seseorang dalam bahaya maut yang mengancam pada saat itu juga mengalpakan memberi atau mengadakan pertolongan jika orang yang perlu ditolong jadi mati, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp. 4.500,-).


KUHAP mengatur penanganan suatu kasus melewati 3 tahapan:
    1. Penyelidikan - serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari & menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan           (Ps. 1 ke-5 KUHAP);
    2. Penyidikan - serangkaian tindakan penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya (Ps. 1 ke-2 KUHAP);
    3. Penuntutan - tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan (Ps. 1 ke-7 KUHAP).


Contoh Kasus
                Juli 2006, Adi (7 tahun) mengeluh telinganya kurang mendengar setelah kemasukan air saat berenang, sehingga dibawa oleh ayahnya (Herman) ke salah satu RS di Jakarta Pusat.
                Setelah diperiksa di Poli THT di RS tersebut, dr. A (dokter THT yang bertugas) mendiagnosa Adi mengalami tuli konduktif atau otosklerosis  kaku tulang pendengaran sebelah kiri pada telinga sebelah kiri.
                dr. A menyarankan agar dilakukan operasi dan dirujuk untuk menemui dr. B (dokter spesialis THT yang lebih senior). Herman membawa Adi menemui dr. B dan dilakukan beberapa kali pemeriksaan penunjang sebelum operasi timpanoplasti, kemudian pada tanggal yang telah ditentukan di bulan Juli operasi dijadwalkan.
               
Pada saat operasi berlangsung, di dalam ruang operasi ada:
1.       dr. B - dokter yang bertanggung-jawab atas operasi;
2.       suster 1 - penyedia alat operasi;
3.       suster 2 - penyiapan operasi termasuk mengatur posisi pasien di meja operasi;
4.       dr. C - dokter anestesi; dan
5.       suster 3 - membantu anestesi.
                Setelah dilakukan anestesi oleh dr. C dan suster 3, sewaktu suster 2 akan menyiapkan pasien untuk operasi, ia menanyakan kepada suster 3: “telinga yang mana yang akan dioperasi?”. suster 3 menjawab: “kanan”.
                Jawaban ini diberikan oleh suster 3 tanpa membaca rekam medis pasien dan langsung dilaksanakan oleh suster 2 tanpa membaca terlebih dulu rekam medis pasien yang seharusnya dilakukan oleh suster 2 selaku penyiap pasien.


                 kemudian Adi dibaringkan menghadap kiri dan telinga kanan dibersihkan dan disiapkan untuk tindakan operasi. dr. B memulai operasi dengan menyayat kulit di belakang telinga kanan.
                Setelah operasi selesai, Adi dibawa ke ruang pemulihan. Di ruang pemulihan, orang tua Adi terkejut mengetahui bahwa operasi yang seharusnya dilakukan pada telinga kiri ternyata dilakukan pada telinga kanan. Kasus ini dilaporkan orang tua Adi ke kepolisian dan diperiksa sebagai tersangka: dr. B, suster 2, dan suster 3.
                Operasi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, dalam hal ini dokter dan suster yang berhubungan langsung dengan pasien, dilakukan karena kelalaian sehingga dalam kasus ini didakwakan               Ps. 361 KUHP.
Dalam hukum pidana, beban pembuktian ada pada JPU, sehingga untuk membuktikan kelalaian tersebut menggunakan alat bukti yang sah:
    1. keterangan saksi - Ps. 185 KUHAP;
    2. Keterangan ahli - Ps. 186 KUHAP;
    3. Surat - Ps. 187 KUHAP;
    4. Petunjuk - Ps. 188 KUHAP;
    5. Keterangan Terdakwa - Ps. 189 KUHAP.
  1.                 Penanganan malpraktek medis pada dasarnya tidak berbeda dengan penanganan perkara-perkara tindak pidana yang lainnya. Perbedaannya adalah pihak yang merasa dirugikan selain dapat mengajukan upaya pidana, juga dapat mengajukan upaya perdata dan upaya administrasi atau melaporkan hal tersebut pada IDI yang nantinya akan diproses secara administratif.
  2.                 Penanganan yang dilakukan oleh JPU dalam kasus malpraktek medis sama dengan penanganan kasus-kasus lainnya.

Share :
Posted by: Betara Indra Gunawan
Betara Blog Updated at: 7:13 PM

Admin :

Terima kasih Atas Kunjungannya, Sahabat sedang membaca artikel tentang Penanganan Kasus Malpraktek Medis Oleh Jaksa Penuntut Umum di Blog Betara , Sahabat dipersilakan mengcopy paste atau menyebarluaskan artikel ini, Namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya.

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Terima kasih anda telah membaca artikel saya Tinggalkan Komentar anda

Follow by Email