Tanpa masalah Saat Tidak Ada Bos

Anda sudah bekerja berapa tahun ?Berapa banyak boss dalam kehidupan professional anda? Bagaimana hubungan dengan boss yang yang harus anda hadapi setiap hari kerja sekarang? Jika angka 10 menggambarkan hubungan langgeng, menyenangkan & memberdayakan – dan angka 0 menunjukkan indikasi hitungan waktu yang anda kehendaki untuk bersamasi boss, maka kira-kira hubungan anda ada pada angka berapa? Jujur saja, lha wong saya si boss tidak mungkin tahu isi jawaban anda koq. Sudah muncul angkanya?Nah, jika jawaban anda berada pada kisaran 7 keatas maka anda minoritas dibandingkan dengan riset kecil-kecilan yang saya lakukan melalui media social awal minggu ini. Jawaban ekstrem 10 atau 0 juga dilontarkan karena sedang cinta berat atau sakit hati parah dengan si boss – atau mungkin juga respondennya lebay. Jawaban paling banyak ada pada angka 5-6.Kabar baiknya: masih ada harapan. Kabar buruknya: harus segera dilakukan intervensi oleh korporasi atau si boss sebelum angka ini tergelincir lebih rendah lagi. Bagi saya dibawah 5 artinya apatis – sudah hamper pasti tidak bias dilakukan apapun kecuali bagi siempunya untuk pindah bagian atau keluar dari perusahaan.

Dalam organisasi manapun, atasan punya peran besar dalam penuntasan pekerjaan dan pertumbuhan karier setiap profesional. Kehadiran mereka idealnya sebagai pendukung, inspirasi, penetap kepastian, pemberi arah dan penentu batasan. Apa jadinya jika tidak ada atasan? Apakah organisasi tetap dapat berfungsi dengan baik? Ternyata ada contoh menarik dari Amerika Serikat (AS). Morning Star – sebuah perusahaan pengolahan tomat dari California, AS dengan pendapatan per tahun US$ 700 juta atau sekitarRp. 7,7 triliun punya 400 karyawan tanpa seorang pun boss. Kerennya pertumbuhan pendapatan & laba mereka senantiasa pada angka belasan persen sementara rata-rata industry hanya 1%. Gaji rata-rata karyawan Morning Star 15% lebih tinggi dari rata-rata industri, sementara paket benefit mereka 35% melebihi perusahaan sejenis lain. Fakta lain lagi? Disana tidak ada promosi, tidak ada jabatan, tidak ada perintah. Siapa yang mengendalikan perusahaan? Semua karyawan. Siapa yang menentukan pekerjaan dan kompensasinya? Semua karyawan. Siapa yang bertanggung jawab atas hasil kerja? Semua karyawan.

Boss = Master Delegator. A leader is something else. Chris Ruffer, penemu perusahaan ini menyebut gaya mereka sebagai self-management. Apa maksudnya? Pastikan semua orang tahu persis tugas, peran dan batasan masing-masing selebihnya tinggal dijalankan. Resepunik Morning Star butuh penjelasan panjang dan mungkin belum tentu bias diterapkan dalam banyak organisasi. Namun sungguh menyegarkan untuk diketahui, dipelajari dan dipahami.

Management is more than just about getting someone else to do the work. Pemahaman manajemen sebagai mekanisme untuk menuntaskan pekerjaan melalui orang lain harus dikoreksi. Pemahaman ini yang memunculkan figur-figur boss, bukan manajer, bukan leader. Apa gunanya seorang atasan jika fungsinya hanya sekedar meneruskan pesan dari hierarkie yang lebih tinggi? Apa manfaatnya kehadiran manager jika tidak diimbangi kepedulian membantu, ketekunan menginspirasi dan keasyikan bekerja bersama?

Jabatan sebagai atasan adalah mandate untuk memberdayakan orang lain (baca: terutama bawahan) dan memastikan pencapaian sasaran kerja. Sehingga keberadaansi boss hanya relevan saat menjalankan mandatnya tidak lebih, tidak kurang. Tanpa kesadaran itu ketiadaan si boss bisa jadi lebih relevan – atau bahkan lebih baik bagi organisasi dan para penghuninya. No boss? No problem. You may delegate authority, but you can’t delegate responsibility.
Regita Tara
Regita Tara

Terima kasih Atas Kunjungannya sedang membaca artikel tentang Tanpa masalah Saat Tidak Ada Bos di Blog Betara , Sahabat dipersilakan mengcopy paste atau menyebarluaskan artikel ini, Namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya.

Previous
Next Post »

Terima kasih anda telah membaca artikel saya Tinggalkan Komentar anda
EmoticonEmoticon