Tragedi Bom Sarina dari Keterangan Polri dan Saksi Mata

Menurut Saksi Mata Ledakan bom beruntun yang terjadi di sekitar halaman parkir depan kafe Starbucks, Jalan Husni Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis pagi.  Seorang saksi mata, Taufik Rusyana, mengaku mendengar tujuh ledakan berturut-turut sekitar pukul 10.00 WIB. Taufik merupakan karyawan kantor di Gedung Jaya, persis berseberangan dengan Starbucks. Saat itu ia hendak makan siang di luar kantor lalu mendengar ledakan pertama di halaman parkir Starbucks. Asap menyeruak dari bangunan itu.

Tak lama, kata Taufik, ledakan kembali terjadi di pos polisi selatan yang menghadap ke arah Monas. "Langsung terlihat tiga orang terlempar. Salah satu mental sampai ke tengah perempatan jalan," kata Taufik, Kamis, 14 Januari 2015.

Setelah ledakan, Taufik mendekat ke arah pos polisi. Ia menyaksikan polisi mulai berhamburan ke arah Starbucks. "Mulai terjadi adu tembak," kata dia.

Tak lama setelahnya jalan Husni Thamrin ditutup. Sebuah mobil polisi, kata Taufik, digunakan untuk mengangkut seorang polisi yang terluka.

Menurut Taufik, sebuah mobil Mitsubishi Pajero hitam dan mobil polisi melintas dari arah Monas dan berhenti di samping pos yang menghadap ke selatan, persis di seberang Starbucks. Beberapa polisi yang terlibat baku tembak menyelamatkan diri di samping mobil itu. "Tak lama ada ledakan dari mobil tersebut," ujar Taufik.

Saksi mata lain, Edi Saputro, merekam ledakan ketiga itu. "Setelah baku tembak tiba-tiba mobil seperti meledak," ujar dia. Edi berdiri tepat di depan gedung Sarinah.

Tak lama setelah itu keduanya mendengar ledakan berturut-turut hingga tujuh kali. "Pasukan dengan laras panjang baru datang setelah ledakan ketiga," kata Taufik. Sepenglihatan Edi dan Taufik, enam orang tewas di tempat akibat tragedi ini.

Polisi menutup seluruh akses menuju Sarinah. Beberapa helikopter tampak memantau dari udara. Barakuda juga disiagakan di kawasan ring 1 Jakarta. Mobil ambulan hilir mudik membawa korban. Sekitar pukul 12.30 WIB, Tempo mendengar letusan di perempatan Sarinah. Hingga kini, polisi di tempat kejadian belum bisa memberikan keterangan. (http://metro.tempo.co 14 Januari 2016)

 Menurut keterangan Polri Bukti rekaman CCTV saat terjadi ledakan bom Sarinah kembali dibuka Mabes Polri kepada wartawan. CCTV itu diperoleh dari Gedung Jaya yang terdapat di seberang Gedung Djakarta Teater XXI dan Starbucks Coffee.

Dari hasil rekaman tersebut bom mulai meledak di Stabucks Coffee pada pukul 10.39 WIB pada Kamis 14 Januari 2016. Kemudian setelah jeda sepuluh detik ledakan juga terjadi di Pos Polisi Sarinah.

"Di Pos Polisi ada Aiptu Dani (petugas) mau melaporkan ada ledakan di Satarbucks, tiba-tiba di sana keburu meledak," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Charliyan, di Ruangan Humas Mabes Polri, Senin (18/1/2016)

Setelah ledakan juga terlihat driver Go-Jek menolong ibu-ibu di perempatan Jalan Thamrin Sarinah tersebut. Warga sekitar bedatangan tanpa rasa takut. Mereka mengerumuni lokasi sambil mengambil foto kejadian.

Saat itu jalan dari arah Patung Kuda ditutup , namun Jalan dari arah Bundaran HI masih dibuka. "Ya begitulah warga Indonesia, hebring, ada bom malah rame-rame menonton," timpal Anton.

Di saat warga meramaikan lokasi bom, dua orang teroris memakai ransel tampak berdiri di belakang garis zebra cross dari arah Patung Kuda. Mereka lebih kurang berjarak lima sampai 10 meter dari kerumunan warga.

Lalu salah seorang teroris yang diketahui bernama Afif alias Sunakim memakai ransel dan mengenakan topi berjalan ke arah kerumunan warga. Lalu tiga orang polisi lalu lintas yang mengamankan situasi meminta warga menjauhi lokasi.

Afif mulai mengambil senjata dan menembak satu polisi dan warga sipil. Warga berlarian menjauhi lokasi. Warga yang terlihat memakai baju hitam itu tewas dan tergeletak di depan Sarinah.
 
Kemudian seorang teroris yang berkomunikasi dengan Afif berjalan ke arah Starbucks. Karena di sekitar gedung ada Polisi Provos, ia menghampiri polisi itu. Namun polisi belum mencurigai gerak gerik pelaku. Akhirnya teroris itu menembak ke arah badan polisi.

Selain itu, di area pelaraan parkir mobil depan Starbucks Coffee tampak warga asing yang sudah tergeletak jatuh ditembak pelaku lainnya. Warga sudah berlarian menyelamatkan diri.

"Di Pos Polisi ada tiga orang meninggal di tempat. Mereka adalah Dian, Riko dan Sugito. Kemudian di Starbucks ada empat tewas yakni MA, Afif (pelaku), AM dan WNA Kanada," papar Anton.

Anton mengatakan polisi yang ditembak selamat setelah menjalani operasi. Dia adalah polisi lalu lintas yang tidak dibekali senjata api.

"Tidak ada polisi meninggal, jadi polisi itu polantas yang ditembak di tengah lampu merah. Jadi tidak semua anggota polantas membawa senjata api," tukasnya. (news.okezone.com 18 Januari 2016)
betara indra gunawan
betara indra gunawan

Terima kasih Atas Kunjungannya sedang membaca artikel tentang Tragedi Bom Sarina dari Keterangan Polri dan Saksi Mata di Blog Betara , Sahabat dipersilakan mengcopy paste atau menyebarluaskan artikel ini, Namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya.

Previous
Next Post »

Terima kasih anda telah membaca artikel saya Tinggalkan Komentar anda
EmoticonEmoticon